Saturday, August 20, 2011

Resensi dari sebuah Buku Berjudul ... "Khadijah.. The True Love Story Of Muhammad SAW"..

“ Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku pada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, tetapi Rasulullah sering menyebut namanya. Pernah beliau menyembelih seekor kambing kemudian memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkan kepada sahabat-sahabat Khadijah.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Baghawi).

Hadits ini cukup menjadi bukti indah perjalanan cinta Rasulullah dengan Siti Khadijah. Bahkan ketika Khadijah telah tiada, beliau sering menyebut namanya, dan masih tersimpan di relung sanubarinya. Inilah yang menghantarkan saya menuntaskan halaman demi halaman dari buku ini.

 Khadijah binti Khuwalid ibnu Asad ibnu Abdil Uzza ibnu Qushai  namanya, seorang saudagar sukses suku Quraisy yang selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam menjalani usahanya. Ia memiliki otak yang cerdas dan perilaku yang mulia. Khadijah juga orang yang memiliki garis keturunan paling terhormat di suku Quraisy. Dahulu, sebelum Islam datang Khadijah diberi gelar “wanita yang suci” (ath-thahirah) dan (sayyidatul Quraisy). Saat itu setelah suaminya pertama meninggal, banyak lelaki yang coba meminangnya tetapi tidak ia hiraukan. Sampai suatu saat dia melabuhkan hatinya kepada seorang pemuda yang terkenal kejujurannya Muhammad ibnu Abdillah.  Setelah datangnya Islam kita mengenalnya dengan sebutan Ummul Mu’minin.

Muhammad ibnu Abdillah seorang pemuda cerdas, santun, berpenampilan sempurna, dan berakhlak mulia. Ia terkenal jujur dan pandai membawa diri di tengah rekan-rekan sebayanya yang sibuk berfoya-foya. Karena kejujurannya itulah dia digelari “al-amin”.  Kejujurannya diuji ketika membawa kafilah milik Khadijah ke negeri Syam. Ini adalah pilihan beresiko, Khadijah hanya mengandalkan naluri dan firasatnya yang jarang salah. Meskipun  saat itu Muhammad masih hijau untuk urusan perdagangan, namun dia berhasil membuktikan bahwa ada bakat seorang pengusaha yang tertanam dalam dirinya.  Muhammad meraup keuntungan besar dalam ekspedisi ke Syam. Barang-barang habis terjual, laba yang dihasilkan pun luar biasa. Kepada Khadijah dia melaporkan semua hal yang dialaminya dalam perjalanan. Betapa gembira hati Khadijah saat mendengar laporan keberhasilan Muhammad.

Tak bisa dipungkiri keelokan pribadi Muhammad membuat Khadijah tertarik. Ekspedisi dagang ke Syam pun menjadi awal tumbuh  rasa di hati Khadiiah. Ditambah lagi gelar “al-amin” Muhammad yang beredar di saentro kota Mekah bukan merupakan isapan jempol semata. Dari cerita tentang Muhammad yang dia peroleh dari Maysarah pengawal yang ditugasi Khadijah untuk membantu Muhammad makin membuat dirinya gamang. Perasaan apa yang sebenarnya muncul dalam hatinya? Mengapa ia kagum ketika melihat Muhammad memasuki kota Mekah dengan untanya? Tidak salahkah penglihatannya ketika melihat dua malaikat menaungi Muhammad?  Bagaimana ia harus menyikapi cerita-cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?.

Ketika Khadijah tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanya itu, saat itulah ia menemui saudaranya Waraqah ibnu Naufal. Waraqah adalah seorang pengikut Nasrani sejak muda. Ia tidak menyembah berhala dan mempelajai kitab-kitab suci terdahulu. Dari Waraqah Khadijah mengetahui kelak dari keturunan Ismail inilah Allah akan mengutus seorang rasul terakhir, nabi dari bangsa ini dan sekaranglah saat  kemunculannya. Secara pribadi apa sebenarnya yang menghubungkan dirinya dengan Muhammad. Rasa hormat dan cinta Khadijah kepada Muhammad tumbuh perlahan-lahan hingga akhirnya mencengkram hati dan perasaan. Apakah ini juga bagian dari takdir tuhan? Ataukah Tuhan menghendaki dirinya terlibat dalam  rencana besar-Nya bagi manusia.

Khadijah masih tetap dalam keraguannya. Pantaskah ia menikah dengan Muhammad? Dalam tradisi bangsa Arab perempuan hanya boleh menunggu pinangan laki-laki. Tapi dia sadar bahwa dirinya sudah bukan perawan muda. Sudah berapa banyak dia mempekerjakan laki-laki untuk mengurusi bisnisnya. Apa salahnya jika dia memilih Muhammad sekali lagi untuk menjadi pendampingnya?. Tibalah waktu Khadijah meminang Muhammad. Tiba-tiba muncul pertanyaaan baru dalam benaknya yang harus dijawab: siapa yang dapat menjamin bahwa Muhammad akan menerima pinangannya?. Muhamad adalah seorang pemuda, lebih berhak memilih wanita sebayanya  untuk dijadikan pendamping hidupnya. Untuk melancarkan siasat ini Khadijah mengutus Nafisah binti Umayyah yang masih kerabat dekat Muhammad. Nafisah mendatangi Muhammad dan kemudian menjelaskan tentang betapa penting arti pernikahan.  Muhammad terkejut dengan keterangan Nafisah bahwa orang yang ingin melamarnya adalah Khadijah. Berbagai alasan Muhammad sampaikan bahwa dirinya hanyalah orang miskin, bagaimana ia membayar mahar Khadijah kelak ? Nafisah menjawab, “aku yang akan menguruskannya”.

Proses diplomasi awal yang dilakukan Nafisah berbuah manis. Tidak hanya penting bagi Khadijah, tapi juga bagi sejarah manusia secara umum. Setelah itu Khadijah mengundang Muhammad ke rumahnya. Disana dengan berani Khadijah mengungkapkan secara langsung pinanganya. Khadijah memperlihatkan bahwa wanita mampu menangani urusan-urusannya sendiri, berhak melakukan apa pun demi kebahagiaan, serta boleh menerima siapa pun yang pantas menjadi tamunya. Perhatikan ucapan Khadijah  kepada Muhammad berikut ini.

“wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas asas kekerabatan, kedudukanmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu.”

Muhammad pun menerimanya. Hari pernikahan yang ditunggu pun datang. Muhammad didampingi oleh bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Talib dan Hamzah. Sedangkan Khadijah didampingi oleh bani Asad yang dipimpin oleh Amr ibnu Asad. Pernikahan itu dilaksanakan setelah 2 bullan 15 hari kembalinya Muhammad dari Syam. Mahar yang diberikan kepada Khadijah adalah 20 ekor unta. Usia Muhammad saat itu adalah 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Perbedaan usia tidak mampu menghalangi cinta yang dianugerahkan Allah kepada mereka berdua.

Muhammad dan Khadijah menikmati hidup rumah tangga yang bahagia. Mereka adalah pasangan yang saling melengkapi. Muhammad adalah pemuda yang tengah berada di puncak kekuatan fisiknya, mengambil alih semua urusan ekonomi yang melelahkan. Khadijah mengimbanginya dengan cinta dan kasih sayang. Sampai tibalah satu saat dimana Muhammad selepas menerima wahyu pertama dari Allah melalui malaikat Jibril. Ia dalam ketakutan, wajahnya tegang, tubuhnya bergetar. Ia berseru, “Selimuti aku! Selimuti aku!.” Khadijah langsung mendekapnya dengan lembut sehingga sebagian rasa takut Muhammad berkurang, dalam keadaan seperti itu ia mengutarakan bahwa apa yang terjadi saat ini semacam ilusi yang biasa dialami oleh para penyair atau tanda-tanda awal kegilaan. Pada saat turun wahyu seperti ini Khadijah sering menenangkan Muhammad dan meyakinkannya bahwa engkau adalah utusan Allah untuk umat ini. Tidak cukup dengan itu, Khadijah sekali lagi berkata, “ Ya engkau adalah utusan Allah. Aku bersumpah demi ayah dan ibuku, aku memercayaimu. Aku beriman kepada Allah dan kepadamu sebagai Rasul-Nya”.

 Mendengar perkataan istrinya, Muhammad terlepas dari beban berat yang ditanggungnya. Ia memandang istrinya dengan penuh cinta kasih. Muhammad merasa kekuatannya pulih kembali. Begitulah, Khadijah menjadi orang pertama yang beriman kepada Muhammad Rasulullah. Semenjak itu, Khadijah selalu berada di sampingnya, mendampinginya dalam setiap suka dan duka serta menanggung segenap kesulitan bersamanya. Ketika Khadijah  meninggal, sering Rasulullah menyebut-nyebut namanya, kebaikannya, dan darinya ia mendapatkan keturunan. Salah satu contoh gamblang betapa berarti Khadijah di hati Rasulullah adalah sebuah peristiwa di tahun 8 Hijriah, 11 tahun setelah wafatnya Ummul Mu’minin.  Rasulullah menjadikan Hujun tempat dimakamnya Khadijah sebagai pusat komando dan pengawasan pasukan Islam pada pembebasan Mekah.

Buku “Khadijah, The True Love Story of Muhammad Saw”, pada dasarnya hanyalah  bentuk presentasi ulang dari kitab-kitab sirah nabawiyah yang sudah ada. Tulisan lebih terfokus pada romantika cinta baginda Rasul dengan Siti Khadijah. Kisah cinta yang tak ada bandingan, tapi juga tak membosankan untuk diulang-ulang. Tidak ada hal baru dalam buku ini, namun cara penyajiannya cukup membuat orang  tertarik membacanya.

Buku dalam balutan cover dengan corak warna cerah ini sengaja diperuntukkan untuk  wanita muslimah. Di tengah era kemoderenan sulit untuk mencari Khadijah Khadijah baru. Sosok yang mampu menjadi penopang dakwah para kaum lelaki. Ingat "dibalik setiap kesuksesan pahlawan besar pasti tak lepas dari wanita agung disisinya".

Selamat membaca !!!
moga bermanfaat.. ya kawan-kawan.. Khususnya bagi yang ingin membeli buku inii... ^__^