Monday, May 23, 2011

7 Jawaban bagi Mereka Yang Ingin Kaya dan Jangan Pernah Melupakan Sedekah





Beberapa bulan yang lalu Saya telah membaca buku “The Richest man in Babylon” karya George S. Clason. Meskipun buku ini sudah lama diterbitkan namun tidak mengurangi isi dan ilmu yang terkandung didalam. Buku ini berisikan mutiara-mutiara berharga bekal kehidupan di masa depan. Yaitu tentang bagaimana cara mengolah pundi-pundi emas kita. Kita bisa belajar dari Banshir dan temannya Kobbi bagaimana mereka dengan kekuatan tekad, semangat, motivasi untuk mengubah garis tangan mereka, mengubah kemiskinan yang menderakan hidup merka, merka adalah orang-orang seperti kita. Orang-orang kaum bawah yang memiliki impian setinggi bintang yang menggantung dilangit. Apakah sekeras itukah kehidupan di dunia? Orang-orang Babylon yang saay itu semakin hidup dalam kekayaan, Si kaya semakin bertambah pundi-pundi emasnya sedangkan Si miskin tetap dalam keaadaanya. Tapi saya kagum diantara tulisan-tulisan itu adalah kebijaksanaan Si Arkad, dia adalah seorang yang sangat kaya di Babylon zaman itu. Bahkan Sang Raja  meminta dengan hormat untuk mengajarkan, menularkan cahaya ilmu yang dia miliki kepada 100 orang terpilih tentang bagaimana menggemukan pundi-pundi emas kita.

Ada Tujuh tips yang diajarkan Arkad kepada seratus orang tadi guna menggemukan kantong-kantong emas mereka, dan bukan hanya untuk mereka tapi untuk kita semua yang membutuhkan ilmunya.

Pertama, Mulailah menggemukan pundi-pundi kosong.

Bagaimana cara menggemukannya?  itu pertanyaan yang selalu hadir. Beruntunglah bagi mereka yang memiliki keistimewaan, dengan keahlian bisa menghasilkan pendapatan, memiliki pekerjaan  tetap yang akan menjamin hidup mereka dihari depan. Dari setiap keahlian yang mereka miliki, pekerjaan yang mereka lakoni dan hasil yang mereka dapatkan, jangan lupa untuk menyisihkan sepersepuluh dari pendapatan. Begitulah langkah Al-gamish(guru Arkad) mengajari Arkad. Bayangkan jika dari sepersepuluh ini kita tabung selama setahun atau jangka waktu  lama. Bisa berlipat ganda pundi-pundi milik kita.


Kedua, Kendalikan pengeluaranmu.

Keinginan, kebutuhan, hajat hidup, tidak akan terpenuhi secara utuh. Karena itu sifat asli manusia. Ketika kita miskin kita akan menyesuaikan dengan pendapatan dan kebutuhan kita. Begitupula ketika kita jadi kaya raya, semuanya disesuaikan dengan kondisi kita saat itu. Pengeluaran bisa lebih besar dari pendapatan. Manusia tidak akan pernah puas kecuali lubang tenggorokannya diisi dengan tanah. Seperti dalam hadits Rasulullah. Orang yang bijaksana adalah orang yang bisa menahan, mengendalikan pengeluarannya. Dengan kita berusaha sabar menyisihkan sepersepuluh dari pendapatan kita, tidak tergoda dengan kenikmatan dunia. Yakinlah suatu saat impian itu akan terwujud. Bukankah kita masih punya 9/10 buat menghidupi diri kita(kalo tidak punya Istri dan anak), atau 2/10 dari 9/10 buat melunasi hutang-hutang kita kepada orang lain.

Ketiga, Lipat gandakan emas kalian

Masih ingat dengan sepersepuluh yang kita tabung? itu bukan harta yang tidak bisa digerakan. Kita tidak sadar dari situlah kita akan memulai segalanya. Sepersepuluh itulah yang akan membuat impian kita menjadi orang kaya bisa terkabul. Kita akan memulai menggerakkan simpanan kita tadi denga melakukan investasi-investasi penting yang akan mendukung supaya pundi-pundi emas kita terus bertambah, “Kekayaan seseorang tidak terletak pada banyaknya uang dalam tabungannya, tetapi pada pemasukan yang ia bangun.”

Keempat, Jaga harta kalian biar tidak lenyap

Jangan pernah tergiur dengan sesuatu yang instan, investasi-investasi yang merugikan, pahami betul jalan-jalan kesuksesan. Semua butuh proses tidak ada yang langsung sukses. Bagaikan pohon hari ini di tanam besok langsung berbuah. Mustahil,,, Jangan pernah salah melangkah menginvestasikan harta. Kalu kita tidak memahami, mengetahui bahaya-bahaya yang akan terjadi lebih baik jangan. Tahan sampai kita benar-benar menguasai ilmunya, sampai kemungkinan gagal 0.01 %. Ada baiknya konsultasikan dulu dengan para ahlinya, jika kita ingin menginvestasikan harta kita buat perdagangan maka bekerja samalah dengan orang-orang yang ahli berdagang dan bukan kuli bangunan. Betul tidak,,,? Hehehe. Kenapa seperti ini? Jangan seperti Arkad ketika dia telah berhasil mengumpulkan simpananya selama setahun, dia menginvestasikan emasnya kepada orang yang bukan ahlinya. Akibatnya, harta itu lenyap. Tapi itulah pelajaran sehingga ditahun kedua dan tahun berikutnya dia berhasil sukses dengan investasinya. Sungguh benar perkataan Allah dalam Al-qur’an, “ Fas’alu Ahla adzikri in kuntum la ta’lamuun”(Q.S An-Nahl: 43) maka bertanyalah kepada Orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

Kelima, Jadikan tempat tinggalmu investasi yang menguntungkan.

Setelah sukses memiliki rumah besar, tanah banyak, kebun puluhan, hewan ternak, kendaraan mewah. Jangan pernah biarkan hartamu diam, jadikan segala apa yang kita miliki memberikan penghasilan tambahan buat kita. Misalkan dari tanah kosong kita jadikan gedung-gedung sewaan. Kebun-kebun jadikan taman yang indah, buat peternakan, rental mobil dan sebagainya.

Keenam, Buatlah pendapatan dimasa depan terjamin

Kehidupan bukan untuk kita seorang, masih ada anak cucu kita sebagai estafet perjuangan. Bersyukurlah dengan apa yang kita dapat sekarang dan tetap memikirkan masa depan. Ketika kita sudah tua kita bisa menikmati jerih payah kita berpuluh-puluh tahun lalu. Dan ketika kita tiada orang-orang yang kita tinggalkan tidak dalam keadaan sengsara dan minta-minta.  

Ketujuh, Tingkatkan kemampuan memperoleh pendapatan.

Semakin kita tahu kemampuan kita, semakin kita mengenal potensi dalam diri kita, semakin sering kita melatih keahlian kita maka semakin besar pula kesuksesan akan menghampiri kita. Perubahan itu harus jangan jadi orang yang statatis. Ketika ada peluang manfaatkan, ketika kita melakukan kesalahan itu wajar. Introspeksi, ketahui penyebabnya, berani belajar dari kesalahan. jangan pernah bosan berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Apa yang tidak ada dalam diri kita, ada pada diri orang lain. jika kita ingin seperti dia maka belajarlah dari dirinya dan pengalamannya.

Itulah tujuh pesan dari Arkad dalam buku “The Richest man in Babylon”. Sumber inspirasi, diperuntukan bagi mereka yang ingin merubah garis tangannya. Selamat mencoba dan jangan lupa membenteng harta kita dengan zakat dan sedekah sebagaimana termaktub dalam hadis Rasulullah Saw,




Artinya: Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan Bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.
(Hadis Riwayat: Imam Ath-Thabrani)
By Eiyars

Niat Kita Sama Kawan !!!





Pujian dan kesyukuran hanya untuk Allah Swt semata sehingga bisa mengisi halaman kompasiana saya. Meskipun isi tulisan masih jauh dari kata sempurna, tapi insya Allah ini adalah bagian dari proses pembelajaran. Tak bisa dipungkiri saat ini, sepakbola memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat dunia. Olahraga yang bisa dinikmati oleh semua kalangan ini bukan hanya menghadirkan tontonan yang menarik diatas lapangan rumput namun lebih dari itu merupakan lahan bisnis khususnya bagi para konglomerat berduit. Disini penulis tak akan berpanjang lebar dalam membahas sepak bola. Penulis hanya ingin menghadirkan sebuah wacana pengaruh kekuatan sepakbola di kalangan aktivis muda penuntut ilmu.


Kira-kira seminggu yang lalu di Kekeluargaan saya ada acara silaturrahim dengan tamu dari Indonesia. Kebetulan saat itu saya mengajak beberapa sahabat saya untuk hadir dalam acara tersebut, namun dengan berbagai alasan mereka tidak bisa menyanggupi untuk hadir. Setelah diselidiki ternyata ada jadwal bola dan yang main adalah klub kesayangan mereka. Contoh lain ketika acara-acara formal seperti bimbingan belajar, seminar-seminar keilmuan, diskusi keislaman yang sangat sarat akan manfaat harus rela dikorbankan hanya untuk pertandingan 2×45 menit tersebut. Apakah ini yang dikatakan mahasiswa? ketika kehadiran mereka dituntut untuk meramaikan bangku-bangku kuliah, eh,,,malah duduk santai berteriak lantang di kafe-kafe layaknya penonton di tribun sepakbola.


Dua contoh di atas adalah kondisi betapa lemahnya kaum muda kita menghadapi kondisi kehidupan sekarang. Sekedar perbandingan dengan kaum muda zaman awal islam disana berdiri Zubair bin Awam Ra. di usianya yang masih 15 tahun sudah menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah, Ali bin Abi Thalib Ra. usia 10 tahun sudah berani mengorbankan nyawanya demi kepentingan Islam, Zaid bin tsabit Ra. sempat tersedu-sedu menangis sebelum dihibur ibunya Nawar binti Malik. Pada saat itu Zaid kecil menghadap Rasulullah untuk ikut dalam perang Badar dimana pedang yang ia bawa lebih tinggi dari tubuhnya, kemudian Rasulullah menyuruhnya pulang. Subhanallah mereka semua adalah pilar-pilar Islam tak ternilai harganya. Usia boleh dibawah tapi cita-cita setinggi bintang di langit. Para pejuang kecil yang sudah memikirkan rencana besar, cita-cita yang agung. Anak zaman sekarang ,,,? jangan tanyakan…! Usia 10 tahun paling baru tamat SD masih minta jajan sama orangtua, atau masih ada yang di nina bobokan. Usia 15 tahun masih sibuk ngurus stik playstation. Okelah nama kita tidak akan seharum mereka tapi kita masih bisa mengais hikmah dari episode kehidupan mereka. Sudah saatnya kita anak muda zaman ini bangun, bangkit dari tidur. Sesungguhnya Kita belum mati tapi hanya tertidur dan butuh orang yang membangunkan dan cukuplah pahlawan cilik generasi awal yang membangunkan kita.


Kembali ke tema awal, dari sini penulis melihat ada beberapa faktor yang menjadikan anak muda zaman ini tidak se-produktif dan cenderung tergiur  keindahan zaman modern:


Pertama, Tidak ada tanggung jawab pribadi sebagai thallabul ilmi

Anak zaman ini harus lebih memahami eksistensi mereka, bahwa kehidupan ini tidak hanya sekarang, masih ada hari esok. Dan salah satu solusi itu adalah tanggung jawab untuk senantiasa selalu mengisi diri ini dengan ilmu, belajar tumbuhkan minat baca. Adalah kemaksiatan ketika seorang penuntut ilmu tidak belajar. Bagaimana mereka menjadi pilar-pilar perubahan di masa depan sementara diri mereka kosong. Seorang tidak akan mampu berkontribusi terhadap sesuatu kecuali dia memiliki keahlian pribadi. Dan semua itu diperoleh dengan belajar.


Kedua, Salah Prioritas

Kalau saja para aktivis mahasiswa sadar akan tugas tugas mereka maka kejadian seperti contoh diatas insya Allah tak akan terjadi lagi. Salah memilih prioritas akan berakibat fatal dalam kehidupa kita. Prioritas penuntut ilmu adalah dengan belajar, menghadiri kuliah, seminar, dan khalaqah-khalaqah ilmu yang lain. Bukan berasyik masyuk dengan tontonan sepak bola. Karena prioritas kita disini adalah menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan bukan menonton bola sebanyak banyaknya. Bukan begitu kawan seperjuangan,,,?


Ketiga, Miskin akan suri tauladan dan lingkungan yang tidak bersahabat

Tatkala seseorang telah memiliki idola yang layak dijadikan panutan, maka dengan sendirinya dia akan mengikuti gaya dari idolanya tadi. Tapi anehnya anak muda sekarang lebih mengidolakan para pemain sepak bola semisal Critiano Ronaldo, Lionel Messi, David Beckham, Ronaldinho. Sehingga jangan heran kalau cara berpakaian dan gaya rambutnya di cocok-cocokan dengan idolanya. Ada lagi yang mengikuti tokoh-tokoh band terkenal, Ketika ditanya apa alasannya adalah anak “funky”. Kalau tidak mengikuti mereka katanya termasuk anak ketinggalan zaman. Naudzubillah meski pribadi mereka punya nilai kebaikan tapi disana ditempat lain ada yang lebih pantas. Rasulullah harus dijadikan contoh suri teladan bagi kita semua, para pejuang cilik awal islam mereka yang lebih pantas untuk diteladani. Bagi para aktivis mahasiswa disana ada Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Muslim dan masih banyak lagi ulama-ulama besar lain. Merka adalah penuntut ilmu sejati tak sedikit waktu, tenaga, bahkan harta yang mereka korbankan, nah kita,,,? Mau baca satu halaman buku saja sudah ngantuk padahal kita tinggal membaca karya-karya dari proses panjang penulisan mereka.


Di samping itu, kondisi lingkungan juga berpengaruh terhadap kita. Ketika kita dikelilingi oleh pegiat ilmu maka insya Allah seluruh kegiatan kita akan berorientasi pada pengembangan skil belajar kita, adanya minat baca dan rasa keingin tahuan yang tinggi. Namun ketika kita berada di komunitas yang lebih mementingkan hura-hura, asal hidup senang maka tidak ada ujung dari cerita kita selain kerugian dan penyesalan.


Akhirnya, sebelum saya mengakhiri tulisan ini mari kawan sama-sama kembali ke niat awal kita di negeri kinanah ini. BELAJAR,,,!!! berani katakan “YA” untuk belajar dan hal-hal yang bermanfaat dan katakan “TIDAK” untuk bermain dan hal-hal yang membuang-buang waktu. Di sana di Indonesia mereka menanti kita. Begitu besar harapan dan amanah yang dipikulkan di pundak kita, namun harus yakin bahwa kita bisa dan tidak ingin mengecewakan mereka semua. Pastikan air mata mereka tidak akan sia-sia !.
Salam damai buat kawan seperjuangan yang akan imtihan Azhar. Insya Allah kita semua termasuk orang-orang najahiin. Amien…. :-)

Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana tanggal 23 April 2010

By: Eiyars

Tangisan Palestina..

Disana…
Di sudut dunia..
Tak terlihat ……
Dimanakah kedamaian…
Dimanakah ketentraman ..
Dimanakah keadilan …

Yang terlihat hanyalah penganiayaan demi penganiayaan …
Dari Fajar muncul hingga menyingsing…
Suara dentuman bom..Tak jua menemui titik akhir…
Hanya pekikan dan tangisan manusia tak berdosa yang menghiasi suasana itu..

Sungguh ! Israel Terkutuk !!
Kau telah Merampas hak hidup beribu-ribu..warga Palestina..
Anak kecil kau jadikan korban kebiadabanmu..
Kau bunuh mereka dengan nuklirmu..
Kau rampas indahnya masa kecil mereka….!

Sungguh Israel terlaknat..
Kau hempaskan rudalmu ke bumi suci palestina
Kau hancur luluhkan bumi palestina..
Tak puaskah engkau melihat semua itu..??!
Tak puaskah engkau hancurkan masa depan pemuda-pemuda palestina..
Tak puaskah ??

Sungguh kejam kau Israel..
Sungguh murka Allah padamu !!
Dimanakah Engkau Dunia…
Mengapa engkau diam saja..
Melihat pembantaian manusia tak berdosa..

Dimanakah pintu hatimu..
Tak terketukkah melihat itu semua ??
Dimanakah hati nurani …
Dimanakah kata Menjunjung tinggi HAM..

Mengapa, kata tersebut tidak berlaku untuk bumi Pelestina ?? Mengapa ?
Hanya Keyakinan pada Allahlah yang membuat mereka kuat menghadapi semua itu.
Langit dan bumi menjadi saksi bisu atas perjuangan mereka,,,,
Merekalah..pejuang sejati..
Yang kelak dapatkan gelar terbaik di akhirat nanti…yaitu
gelar syuhada…

Itulah balasan yang pantas buat mereka..
Wahai para pejuang sejati,..
Allahu akbar.. !!

by : ayiears
Alhamdulillah wa syukru lillah bisa mengisi halaman kompasiana saya. Meskipun isi tulisannya masih jauh dari kata sempurna, tapi insya Allah ini adalah bagian dari proses pembelajaran. Tak bisa dipungkiri saat ini, sepak bola memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat dunia. Olahraga yang bisa dinikmati oleh semua kalangan ini bukan hanya menghadirkan tontonan yang menarik diatas lapangan rumput namun jauh dari itu merupakan lahan bisnis khususnya bagi para konglomerat berduit. Disini penulis tak akan berpanjang lebar dalam membahas sepak bola. Penulis hanya ingin menghadirkan sebuah wacana pengaruh kekuatan sepakbola di kalangan aktivis muda penuntut ilmu. Kira-kira seminggu yang lalu di Kekeluargaan saya ada acara silaturrahim dengan tamu dari Indonesia. Kebetulan saat itu saya mengajak beberapa sahabat saya untuk hadir dalam acara tersebut, namun dengan berbagai alasan mereka tidak bisa menyanggupi untuk hadir. Setelah diselidiki ternyata ada jadwal bola dan yang main adalah klub kesayangan mereka. Contoh lain ketika acara-acara formal seperti bimbingan belajar, seminar-seminar keilmuan, diskusi keislaman yang sangat sarat akan manfaat harus rela dikorbankan hanya untuk pertandingan 2×45 menit tersebut. Apakah ini yang dikatakan mahasiswa? Ketika kehadiran mereka dituntut untuk meramaikan bangku-bangku kuliah,eh,,,malah duduk santai berteriak lantang di kafe-kafe layaknya penonton di tribun sepakbola. Dua contoh di atas adalah kondisi betapa lemahnya anak muda kita menghadapi kondisi kehidupan sekarang. Sekedar perbandingan dengan anak-anak muda zaman awal islam disana berdiri Zubair bin awam pada usianya yang masih 15 tahun sudah menyibukkan diri dengan aktivitas dakwah, Ali bin abi thalib usia 10 tahun sudah berani mengorbankan nyawanya demi kepentingan Islam, Zaid bin tsabit sempat tersedu-sedu menangis sebelum dihibur ibunya Nawar binti Malik. Pada saat itu Zaid kecil menghadap Rasulullah untuk ikut dalam perang Badar dimana pedang yang ia bawa lebih tinggi dari tubuhnya, kemudian rasulullah menyuruhnya pulang. Subhanallah mereka semua adalah pilar-pilar Islam tak ternilai harganya. Usia boleh dibawah tapi cita-cita setinggi bintang di langit. Para pejuang kecil yang sudah memikirkan rencana besar, cita-cita yang agung. Anak zaman sekarang ,,,,? Jangan tanyakan…! Usia 10 tahun paling baru lulus SD masih minta jajan sama orang tua, atau masih ada yang di nina bobokan. Usia 15 tahun masih sibuk ngurus stik playstation. Okelah nama kita tidak akan seharum mereka tapi kita masih bisa mengais hikmah dari episode kehidupan mereka. Sudah saatnya kita anak muda zaman ini bangun, bangkit dari tidur. Sesungguhnya Kita belum mati tapi hanya tertidur dan butuh orang yang membangunkan dan cukuplah pahlawan cilik generasi awal yang membangunkan kita. Kembali ke tema awal, Saya melihat ada beberapa faktor yang menjadikan anak muda zaman ini tidak produktif dan cenderung terbawa oleh keindahan zaman modern: 1. Tidak ada tanggung jawab pribadi sebagai thallabul ilmi Anak zaman ini harus lebih memahami eksistensi mereka, bahwa kehidupan ini tidak hanya sekarang, masih ada hari esok. Dan salah satu solusi itu adalah tanggung jawab untuk senantiasa selalu mengisi diri ini dengan ilmu, belajar tumbuhkan minat baca. Adalah kemaksiatan ketika seorang penuntut ilmu tidak belajar. Bagaimana mereka menjadi pilar-pilar perubahan di masa depan sementara diri mereka kosong. Seorang tidak akan mampu berkontribusi terhadap sesuatu kecuali dia memiliki keahlian pribadi. Dan semua itu diperoleh dengan belajar.  2. Salah Prioritas Kalau saja para aktivis mahasiswa sadar akan tugas tugas mereka maka kejadian seperti contoh diatas insya Allah tak akan terjadi lagi. Salah memilih prioritas akan berakibat fatal dalam kehidupa kita. Prioritas penuntut ilmu adalah dengan belajar, menghadiri kuliah, seminar, dan khalaqah-khalaqah ilmu yang lain. Bukan berasyik masyuk dengan tontonan sepak bola. Karena prioritas kita disini adalah menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan bukan menonton bola sebanyak banyaknya. Bukan begitu kawan seperjuangan,,,,? 3. Miskin akan suri tauladan dan lingkungan yang tidak bersahabat Tatkala seseorang telah memiliki seseorang yang layak dijadikan panutan, maka dengan sendirinya dia akan mengikuti gaya dari panutannya tadi. Tapi anehnya anak muda sekarang lebih mengidolakan para pemain sepak bola semisal Critiano Ronaldo, Lionel Messi, David Beckham, Ronaldinho sehingga cara berpakaian dan gaya rambutnya di cocok-cocokan dengan idolanya. Ada lagi yang mengikuti tokoh-tokoh band terkenal, Ketika ditanya apa alasannya adalah anak funk. Kalau tidak mengikuti mereka katanya termasuk anak ketinggalan zaman. Naudzubillah meski pribadi mereka punya nilai kebaikan tapi disana ditempat lain ada yang lebih pantas. Rasulullah harus dijadikan contoh suri teladan bagi kita semua, para pejuang cilik awal islam mereka yang lebih pantas untuk ditauladani. Bagi para aktivis mahasiswa disana ada imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Muslim dan masih banyak lagi ulama-ulama besar lain. Merka adalah penuntut ilmu sejati tak sedikit waktu, tenaga, bahkan harta yang mereka korbankan, nah kita,,,? Mau baca satu halaman buku saja sudah ngantuk padahal kita tinggal membaca karya-karya dari proses panjang penulisan mereka. Di samping itu, kondisi lingkungan juga berpengaruh terhadap kita. Ketika kita dikelilingi oleh pegiat ilmu maka insya allah seluruh kegiatan kita akan berorientasi pada pengembangan skil belajar kita, adanya minat baca dan keingin tahuan yang tinggi. Namun ketika kita berada di komunitas yang lebih mementingkan hura-hura, asal hidup senang maka tidak ada ujung dari cerita kita selain kerugian dan penyesalan. Akhirnya, sebelum saya mengakhiri tulisan ini mari kawan sama-sama kita kembali ke niat awal kita di negri kinanah ini. BELAJAR,,,!!! berani katakan “YA” untuk belajar dan hal-hal yang bermanfaat dan katakan “TIDAK” untuk bermain dan hal-hal yang membuang-buang waktu. Di sana di Indonesia mereka menanti kita. Begitu besar harapan dan amanah yang dipikulkan di pundak kita, namun harus yakin bahwa kita bisa dan tidak ingin mengecewakan mereka semua. Pastikan air mata mereka tidak akan sia-sia!!! Salam damai buat kawan seperjuangan yang sebentar lagi akan ujian Azhar. Insya Allah kita semua najah. Amien…. :-)

Perjuangan Itu Tak Selamanya Manis..

Berawal dari kelahiran seorang bayi mungil, lucu, yang belum tahu dan mengenal apapun.. tangisnya membuat orang sekitar tersenyum..

Ketika kecil,, kita selalu menangiis,, ketika mengharapkan sesuatu yang kita mau, kita pasti mengawali menangis sebagai senjata kita supaya Sang Ibu dan ayah memberikan apa yang kita harapkan., betul kan ? (hayongaku.com)

Saat itu,, kita belum bisa membedakan keadaan mana yang berbahaya buat kita dan mana yang bersahabat dengan kita. Di ranjang tempat tidur, yang mulanya kita hanya terbaring saja.. kita mulai mencoba untuk membalikkan badan kita.. kita mencoba untuk merangkak.. yang terkadang membuat kita terjatuh dari tempat tidur,, yang mengakibatkan seorang Ibu berlari mendekati kita, karena kita menangis kesakitan. 

Tetapi,, apakah setelah itu,, kita tak mau belajar dan terus mencoba merangkak kembali ?? Tidak! Jika kita berhenti untuk terus belajar merangkak,, kita tak akan dapat berlari hingga sekarang ini.. 

Ketika itu.. Kita belum memahami apapun.. kita hanya terus berusaha mencoba dan mencoba.. mulai dari membalikkan badan (baca : mengkurep), merangkak,, berjalan tertatih-tatih dan hingga kita pun jago berlari...

Apakah semuanya itu terjadi dengan Instan?? tidak! Itu butuh perjuangan sahabat.. Untuk belajar berjalan, kita harus berkali-kali jatuh.. lalu  bangun lagi.. Untuk lancar berbicara kita tidak langsung lancar, tetapi kita harus memulai dengan kata yang lekat dengan kita "ibu" kurasa kebanyakan kata itulah yang mengawali kita berbicara (baca : ngomong) lalu kita belajar di sekolah.. dan akhirnya kita lancar dan bahkan mungkin fasih dalam berbicara..

Untuk belajar naik sepeda.. kita harus berkali-kali jatuh ke parit,,  dan banyak pembelajaran lainnya...waktu kita di masa kecil..

dan itu semua kita lalui tanpa ada rasa takut untuk mencoba.. tidak gampang putus asa..

Kini.. kita tlah beranjak dewasa.. semakin cerdas dalam berpikir,, sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk..

Tetapi..kebanyakan kita saat ini,
sulit bangkit dari kegagalan..
keberanian kita tidak seperti yang dulu...
yang berani jatuh berkali-kali.. dan bangun lagi..


Sesungguhnya dari setiap kejadian banyak sekali hikmahnya..
tak perlu risau.. kita harus terus mencoba.. terus belajar..
tak usah hiraukan orang yang suka berkomentar.. orang yang suka mencela..
teruslah berjuang... jangan jadikan celaan itu suatu penghambat kesuksesan kita..
jadikan ia sebagai batu loncatan untuk kita.. menjadi orang sukses..
Dan tentunya jalan kesuksesan itu dipenuhi onak dan duri..

Tidakkah kau perhatikan..
Agama Apa yang terbesar di dunia saat ini?? Islam kan ?
Lantas apakah itu muncuk begitu saja??(baca : langsung banyak pemeluk umat Islam),,

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Nabi Allah SWT.. Baginda Rasul Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam ??? begitu banyak cobaan.. siksaan.. celaan yang harus Ia lalui.. tapi beliau tidak menyerah begitu saja... beliau terus dan terus mencoba menyebarkan agama Islam... dengan para keluarganya, sahabat..

Dan saat ini kita masih merasakan gaung Islam.. padahal sudah berabad-abad lamanya Agama Islam disebarkan oleh Rasulullah SAW.. Itulah kesuksesan.. yang harus dilalui dengan perjuangan yang gigih... karena Allah tlah berjanji "Man Jadda Wa Jada" Siapa yang bersungguh-sungguh dalam berusaha, Maka Ia akan mendapatkannya" InsyaAllah.. Wallahuálam

Maka... janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah... 
kutipan 1 
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" (Al-Quran Surat Al-Ankabuut Ayat 2)

kutipan 2
"...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Al-Quran Surat Yusuf Ayat 87)

kutipan 3
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Al-Quran Surat Ali Imraan Ayat 139)

Kutipan 4
"Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Quran Surat Al-Ankabuut Ayat 3)

dan Yang benar-benar harus kita tanamkan dalam HATi kita .......
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..."(Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 286)

Maka.......
TERUSLAH BERJUANG SAHABAT..
 Karena Hidup Tak Selamanya MANIS.. HIdup penuh dengan LIka-Liku..penuh dengan Onak dan Duri.. Karena dari situlah kita belajar Ketegaran.. belajar Bersabar.. Belajar berjuang dengan Gigih... Belajar Ikhlas.. dan banyak lagi hikmah yang bisa kita dapat.. Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.. sebagaimana Firman Allah berikut ini..

"Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (Al-Quran Surat Ali Imraan Ayat 200)

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 45)
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita.. khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya..
Semoga bisa menjadi Ilmu yang bermanfaat..
Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan... Karena kita semua yang Hidup di dunia ini.. masih dalam pembelajaran.. :):) 
Keep Struggle.. !!


by : ayiears